tol purwokerto-brebes, jalur yang sebenarnya perlu dipertimbangkan

assalamu’alaikum wr. wb..

mencoba menulis pemikiran tentang jalan tol lagi.. setelah sebelumnya membahas urgensi tol jogja-solo dan tol jogja-semarang via bawen, kali ini bagian lain di jawa tengah yang coba nbsusanto bahas.. satu jalur yang dilalui oleh sebagian besar bus jurusan yogya-jakarta, serta kendaraan pribadi tentunya.. tak salah lagi, jalur antara banyumas, purwokerto dan brebes..

melalui bumiayu dan pejagan adalah jalur yang dilalui oleh sebagian besar kendaraan dari jogja dan sekitarnya menuju jabodetabek ataupun sebaliknya.. apalagi bus jogja-jakarta juga hampir semua lewat situ, jarang yang lewat pantura via kendal atau jalur selatan via bandung.. jujur saja menurut nbsusanto jalur ini lebih urgent adanya tol dibandingkan beberapa daerah lain, apalagi jogja-solo, jogja-bawen maupun jogja-cilacap.. alasannya berikut..

para pengguna transportasi roda karet jakarta-yogya pasti familiar dengan jalan ini.. yup jalan yang bernama jalan alternatif cirebon atau jalan ketanggungan-margasari di kawasan songgom ini terletak di pinggir sungai pemali sehingga nbsusanto lebih suka menyebutnya sebagai jalan pinggir kali, yang memang salah satu titik macet di jalur banyumas-brebes.. tersedia 2 lajur 2 arah saja di jalan ini.. nbsusanto pernah terjebak macet lama banget disini, tepatnya waktu mudik akhir tahun 2015 lalu hingga total perjalanan jakarta-yogya membutuhkan waktu 21 jam, padahal berangkat bukan di hari terakhir masuk kerja.. bergerak tersendat-sendat karena lalu lintas padat dan terkadang orang tidak sabaran mengambil jalur lawan arah yang membuat antrian semakin macet.. sampe banyak orang sempat keluar dari bus karena bosen.. jalur alternatif yang biasanya ada di jalur mudik pun tak terlihat dan jika ada pun mungkin sempit..

selanjutnya adalah antara brebes hingga purwokerto banyak terdapat perlintasan kereta api sebidang.. pada akhir pekan biasa saja rame apalagi di saat libur panjang, dimana kendaraan roda karet volumenya pasti meningkat juga perjalanan kereta api biasanya ditambah, setidaknya jika lebaran ada 8 kereta tambahan, itu baru 1 arah saja, belum arah sebaliknya.. semakin terhambat..

selain itu posisi bangunan yang berdekatan dengan jalan dengan berbagai aktivitasnya turut menambah kepadatan jalur ini.. bisa dibayangkan jika parkir di pinggir jalan bukan? apalagi jika ada pasar tumpah.. pasti merambat..

kondisi ini ditambah dengan banyaknya tikungan serta tanjakan yang diperparah jalan yang rusak di beberapa lokasi.. maklum saja, jalur ini membelah pegunungan di bagian tengah pulau jawa, dengan di antaranya gunung slamet yang terletak di sisi timur jalur ini.. jelas saja terdapat beberapa titik yang berada di tepi jurang sehingga dipasang guard rail di sisi luar, yang tentunya tak bisa langsung diadakan pelebaran jalan serta waspada longsor.. nbsusanto pernah juga tertahan cukup lama saat melalui jalur ini di akhir tahun 2016 lalu.. macet parah dimana sekitar dini hari jalan lagi setelah istirahat di sekitar prupuk, lha kok sampai subuh bahkan matahari terbit, bus belum meninggalkan jalur ini.. awalnya dikira di depan ada kecelakaan, ternyata tidak karena jalan yang rusak parah.. berjam-jam dan nbsusanto pun sempat coba buka waze mencari jalur alternatif adanya jalan sempit dan belokannya sudah terlalui tanpa ada pilihan lagi.. pun setelah cek di google jalannya segini :

jalan sempit yang layaknya untuk mobil berpapasan saja.. bahkan di jembatan itu entah apakah cukup atau harus menunggu atau tidak.. jalan alternatif lain? entah bagaimana kondisinya.. mungkin jika roda dua saja lebih mudah untuk manuver jikapun salah.. lha kalo mobil, apalagi bus.. tentu jika terlanjur masuk jalan sempit tidak bisa maju, mau mundur pun malah membuat macet kan?

untuk itulah menurut nbsusanto, jika memang infrastruktur berupa tol memang sedang digenjot, kenapa jalur ini tidak dilirik ya? jika alasannya adalah kemungkinan besarnya trafik, sudah pasti ini bukan jalur yang sepi, bahkan mungkin orang cenderung akan masuk tol purwokerto-brebes dibandingkan tol solo-kertosono karena kondisi jalan arterinya begitu..

kalo alasannya medan yang tidak rata yang berakibat tingkat kesulitan konstruksi dan biaya investasi yang besar, toh nyatanya cipularang dan bawen sudah terbangun di kawasan tanah tidak stabil.. malah jogja-bawen yang konturnya naik turun pun sudah cukup sering terdengar rencananya.. lha wong rel double track purwokerto-cirebon saja bisa terbangun dengan baik, misalnya di area jembatan sakalibel ini, walau rel dipindahkan ke jembatan di sebelahnya.. tentu dengan membelah pegunungan serta melalui bukit sehingga pemandangannya ciamik.. apalagi rel butuh alinemen vertikal dan horizontal yang harus lebih smooth dari jalan tol lho..

atau karena analisis mengenai dampak lingkungan? jika tol purwokerto-brebes dibangun maka akan terjadi alih guna lahan dari lahan hijau produktif yang berupa sawah atau kebun menjadi bangunan sehingga menurunkan panen? kalo ini alasannya memang nbsusanto setuju.. sudah cukup lah area lahan hijau yang beralih fungsi entah menjadi rumah, jalan ataupun kawasan industri.. padahal dikenal negara agraris, tapi produksi pangan alami semakin menurun.. mungkin jika dibangun jalan di awal area hijau hanya berkurang selebar jalan saja, tapi lama kelamaan akan ada bangunan di sekitarnya, misalnya tol kemudian butuh rest area, atau kemudian ada perusahaan yang memilih untuk membangun gedung di sebelahnya sebagai branding.. hal ini sudah sangat umum terjadi..

ah entahlah.. mungkin investor serta pihak yang berwenang punya pertimbangan lain.. kalo nbsusanto sih tetep condong meningkatkan fasilitas, kualitas serta kuantitas kendaraan transportasi umum sehingga orang akan secara sukarela naik angkutan umum sehingga tingkat kemacetan akan berkurang.. jika pun kepepetnya rencana pembangunan jalan tol, menurut nbsusanto kawasan ini lebih urgent.. sudah begitu saja.. mungkin ada pendapat dan masukan lain? monggo.. sebagai sarana tukar ilmu, gagasan dan pengetahuan tentunya.. 🙂

sekian dan terima kasih.. 🙂

wassalamu’alaikum wr. wb..

Advertisements

10 Komentar

  1. Artikel yg akurat & kredibel. Kemacetan di jalur Brebes Purwokerto ini sangat parah pada saat liburan. Apalagi saat arus mudik & arus balik lebaran, kemacetan parah pasti terjadi. Meskipun sudah ada fly over di 4 titik pada jalur ini, tapi prediksi saya tidak akan menyelesaikan masalah kemacetan pada saat hari2 libur. Karena masalah utamanya adalah kapasitas jalan sudah tidak mampu menampung volume kendaraan yg melintas jalur ini. Pembangunan ruas jalan tol Brebes – Purwokerto / Cilacap sudah sangat mendesak untuk direalisasikan.

  2. Assalamu’alaikum. Wr. Wb. Ulasan yg sangat akurat & kredibel. Saya sangat sependapat dgn penulis artikel ini. Sebagai warga Brebes selatan khususnya di Bumiayu yg punya kepentingan pekerjaan bolak – balik Jakarta – Bumiayu saya sangat kerepotan jika melalui jalur ini. Pada hari biasa memang tidak terlalu terasa kepadatan lalu lintas di jalur ini, tetapi pada hari2 libur apalagi pada saat arus mudik & arus balik lebaran sudah pasti akan ada kemacetan parah di jalur ini. Belum lagi adanya pasar tumpah di beberapa titik dan labilnya ruas jalan di Ciregol yang sering amblas sudah pasti kemacetan parah tidak terelakkan lagi. Memang sudah ada pembangunan fly over di 4 titik pada jalur ini, akan tetapi prediksi saya tidak akan bisa menyelesaikan masalah kemacetan pada saat hari liburan di jalur ini. Karena masalah utamanya adalah kapasitas jalan di jalur Brebes – Purwokerto ini sudah tidak mampu menampung padatnya volume lalu lintas kendaraan yg semakin meningkat setiap tahunnya. Oleh karena itu pembangunan ruas jalan tol Brebes – Purwokerto / Cilacap sudah seharusnya direalisasikan. Wassalamu’alaikum.wr.wb.Terimakasih

  3. Ulasan yg sangat akurat & kredibel. Itulah realitas yg saya alami sbg warga Brebes selatan tepatnya di Bumiayu yg punya kepentingan pekerjaan sehingga sering bolak – balik Jakarta – Bumiayu. Sangat merasa kerepotan bila melalui jalur ini. Pada hari2 biasa memang tdk terlalu terasa padatnya lalu lintas kendaraan, tetapi jika pada saat hari libur maka akan terjadi kemacetan yg parah dijalur ini apalagi jika saat arus mudik dan arus balik lebaran kemacetan parah sudah pasti tdk terelakkan lagi. Belum lagi adanya pasar tumpah dibeberapa titik dan labilnya ruas jalan di Ciregol yg sering amblas akan menambah beban kemacetan di jalur ini. Meskipun sudah ada pembangunan fly over di 4 titik di jalur ini, tetapi menurut prediksi saya tetap tidak akan menyelesaikan masalah kemacetan, karena penyebab utamanya adlh karena ruas jalur Pejagan – Purwokerto ini sudah tidak mampu menampung volume kendaraan yg semakin padat setiap tahunnya. Oleh karena itu pembangunan ruas jalan tol Pejagan – Purwokerto / Cilacap sudah sangat mendesak untuk direalisasikan. Terimakasih

    • terimakasih mas atas urun rembugnya di artikel saya ini.. memang begitulah adanya.. coba kita lihat di periode mudik lebaran 2017 apakah lebih baik atau lebih parah, karena meskipun orang sudah mulai melirik jalur lain tapi jumlah kendaraan pun meningkat..

monggo tanggapannya.....