tiga ribu mdpl, gamelan dan kesasar – sejuta cerita gunung slamet

assalamu’alaikum wr. wb..

masih tentang pendakian gunung slamet.. setelah artikel dari basecamp sampai pos 4, dan dari pos 4 sampai puncak gunung slamet, kini cerita perjalanan turun dari puncak.. ada pengalaman menarik tentunya.. yang jelas, di puncak kami masih mikir untuk dapat bis malam itu.. karena jakarta masih jauh.. 😆

untuk menyiasatinya, kami mulai turun sekitar jam 11.. katanya perjalanan ke bawah lebih cepat daripada saat mendaki.. memasang target memang hal yang wajar, meski begitu harus realistis dan jangan memaksakan diri.. jadi dinikmati saja lah..

sejenak menatap ke arah lain.. ya, karena ini pendakian menjelang puasa, setidaknya kemungkinan akan libur dulu kalo ketagihan naik gunung.. terpampang di depan adalah jalur summit attack gunung slamet dari jalur pendakian kaliwadas.. birunya langit dengan adanya awan pun masih menghiasi pandangan kami.. tapi kami harus turun meski perlahan.. ya, saat turun berjumpa dengan beberapa anggota rombongan cirebon yang di barisan belakang.. pada saat itu pula kabut nampak mulai menyelimuti puncak gunung slamet via jalur pendakian guci.. hal yang memang seringkali terjadi setelah nbsusanto membaca lebih banyak tentang gunung slamet.. pantas saja pendaki yang kami temui juga berpesan kalo mau muncak segera saja ternyata benar di siang hari malah puncaknya berkabut..

terperosok itu sudah hal yang biasa.. disini terasa pentingnya menggunakan kelengkapan yang proper.. seperti pendakian.. alhamdulillah sih nbsusanto kemaren menggunakan celana training yang cukup mumpuni, cukup tebal tapi nggak bikin berat.. menghindari sobek.. karena celana temen ada yang bolong karena kepleset.. nikmati saja lah.. jangan lupa ikuti jalur.. samar-samar masih terlihat garis putih penanda kok.. memang katanya jangan terlalu jauh dari jalur karena di dekat punggungan ada jurang..

entah berapa lama, mungkin 1,5-2 jam perjalanan kami sudah sampai di pos 5.. yang kami lakukan adalah duduk dan istirahat sejenak sembari sholat dzuhur.. bertemu dengan rombongan yang domisili tak jauh dari gunung slamet.. mereka bilang di pos 5 ada air tapi rada jauh.. lebih deket yang pos 4.. ya berhubung persediaan air kami masih cukup, setidaknya untuk sampai pos 4 dan isi ulang kami pun tidak mengisi dan memilih lanjutkan perjalanan..

di antara pos 4 dan 5 memang ada sebuah terowongan dari berbagai tumbuhan yang ada di gunung slamet.. fix harus nunduk sih dan hati-hati jika bawa tas tinggi.. menurut info yang nbsusanto dapatkan, beberapa waktu lalu terowongan belum dibuat jadi pendaki harus lewat di atasnya..

perjalanan menuju pos 4, 1 orang dari kami memisahkan diri di pos air untuk mengisi ulang air.. sementara 2 orang menuju tenda untuk repacking dan bongkar tenda.. memang menata ulang barang yang sesudah dipakai biasanya tak seringkas saat berangkat.. tapi gimanapun juga, semua harus bisa nyangkut di 2 tas yang kami bawa.. oya kami sempatkan makan untuk sekadar isi tenaga, mengingat perjalanan naik kemarin cukup panjang..

setelah sekalian sholat ashar kami pun pamitan dengan rombongan kuningan yang masih akan bermalam sebelum turun esok pagi.. di jalur guci ini enaknya adalah tidak terkena sinar matahari yang menyengat.. namun perjalanan dari pos 4 ke 3 tetap saja terasa panjang.. ajakan untuk berjalan cepat terkadang terhadang oleh kaki yang mulai terasa sakit.. daripada beresiko, nbsusanto meminta untuk gantian bawa tas ke bawa trashbag, itung-itung sambil recovery dulu..

sepanjang perjalanan kami berjumpa dengan beberapa pendaki yang kebanyakan dari jawa tengah.. seperti biasa, tanya pos 3 masih jauh nggak.. hahaha.. yang pasti akumulasi capek pun muncul di sore itu hingga setelah 1,5 jam sampai juga di pos 3.. istirahat sebentar dan tukar muatan.. oke bawa tas lagi dan siap melangkah menuju pos 2.. semangat kami dari pos 3 adalah bahwa pos 2 itu mendakinya tidak jauh ke pos 3.. jadi turun harusnya lebih cepat.. asumsi 1/2 hingga 3/4 waktu naik cukup lah.. semakin sore saja lha wong dari pos 3 mungkin sekitar jam 5 kurang, lupa tepatnya.. target kalo bisa maghribnya di pos 1 kalo sampai.. tapi ya kami realistis, yang penting jalan turun dengan selamat..

perjalanan dari pos 3 ke pos 2 cukup setengah jam saja.. bener cukup separonya perjalanan naik.. sejenak beristirahat dan kami putuskan untuk lanjutkan perjalanan karena semakin gelap.. headlamp dan senter pun disiapkan.. oya, ternyata burung jalak yang kami temui di antara pos 4-5 itu mengikuti saat kami turun hingga pos 2.. begitu keterangan dari seorang temen.. busyet.. tapi setelah itu si jalak sudah tak terlihat lagi.. nah di pos 2 ke 1 ini suasananya mulai semakin syahdu karena hewan-hewan malam terutama burung mulai bersahutan.. rada horor sih sebenernya.. maklum sudah sepi dari ketemu manusia.. hahaha.. apalagi saat di pos bayangan kadang harus berhenti untuk memastikan jalan yang akan diambil..

headlamp pun dinyalakan.. berhubung nbsusanto nggak pake headlamp ya harus jalan sambil memegang senter.. nggak papa sih meski kurang praktis.. jam pun menunjukkan bahwa waktu maghrib sudah tiba.. memang masih mengejar pos 1, tapi ternyata di pos bayangan sudah ditunggu oleh sesama pendaki yang tadi ketemu di atas yang domisili tak jauh dari gunung slamet.. mereka menyarankan untuk sholat maghrib dulu saja.. nbsusanto sih mengiyakan saja.. agar tenang di perjalanan berikutnya, mumpung datar cukup untuk sholat.. dilepaslah segala peralatan.. kebetulan nbsusanto menggunakan celana training dan jaket untuk menghalau dingin, ditambah kupluk dan sarung tangan.. menggelar karpet dan sholat bergantian, sementara rombongan tadi melanjutkan perjalanan..

selesai maghrib kami pun berkemas untuk lanjutkan perjalanan.. ya kira-kira seperti itu lah jalur pendakian gunung slamet yang kami lalui malam itu.. terlihat cahaya dari kunang-kunang di kegelapan malam.. hewan yang sekarang di desa pun sudah jarang terlihat.. nah, dari sini lah hal seru bermula.. berawal dari seorang temen yang teringat bahwa air mineral dalam botolnya tertinggal di tempat sholat tadi, nbsusanto pun baru sadar kalo sudah nggak pake sarung tangan.. padahal tadinya sempat terserak dan dipindahkan di atas jaket agar mudah saat jalan lagi.. diskusi sebentar mau diambil atau tidak air dan sarung tangan tadi, kami pun memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan.. karena lumayan juga kalo balik arah dan harus turun lagi..

salahsatu headlamp mulai meredup dan tak mampu lagi menerangi.. akhirnya pakai lampu hp dan tukar posisi lagi nbsusanto yang di belakang.. lha kok nggak lama kemudian headlamp satunya ikutan mati.. senter pun diberikan kepada yang di depan dan nbsusanto menggunakan lampu redmi.. syahdu..

jam 7 kurang sedikit kami sampai di pos 1.. seperti biasa masih mengorek coklat yang tersisa sekadar untuk menambah kalori maupun air minum.. disini seorang temen minta untuk istirahat sebentar dan start lagi jam 7, tapi temen satunya bersikeras untuk segera jalan lagi.. akhirnya kami pun berdiri dan lanjut.. usut punya usut, sesampainya di bawah temen yang ngajak segera berangkat itu mendengar suara gamelan di pos 1, padahal nbsusanto dan temen satunya nggak denger.. busyeeeet..

selepas pos 1 keadaan sepi banget.. lama-lama jalanan kok jadi gembur ya.. trus ada kayu-kayu melintang.. kemudian ada bekas pepohonan yang ditebangi.. perasaan kemarin tak begini.. berhenti kemudian cek peta.. menganalisis kemungkinan jalan yang kami lalui.. sampai pada satu kesimpulan, kami kesasar! yang pasti efek capek.. entah mengapa di sebuah persimpangan yang harusnya kami lurus malah kami lurus.. patokan saat itu kalo pertigaan ke kiri menuju basecamp lain, eh kok ya ndilalah.. sebenernya kalo menurut peta, jalur yang kami lalui ini juga tembus ke basecamp.. tapi semakin turun kok rasanya semakin sepi dan lampu pemukiman yang sempat terlihat di bawah malah tertutup lagi.. temen yang di depan berulangkali mengabsen yang di belakang untuk memastikan.. yang ada di bayangan adalah mending dzikir saja, ucapkan takbir jika jalan menanjak dan tasbih jika jalan menurun.. hingga di suatu titik kami berhenti, diskusi dan akhirnya memutuskan untuk balik arah dan mencoba mencari jalur normal..

patokan temen adalah adanya sampah merupakan tanda adanya pendaki lewat sini.. bukan pembenaran untuk membuang sampah sembarangan, tapi itu adalah salah satu cara klasik untuk memastikan jalan..  gps di hp pun tak banyak membantu, hanya sekadar orientasi arah untuk mendekati basecamp karena jalur tak terlihat.. hingga kami menemukan pertigaan dan belok ke arah yang diduga menuju basecamp.. kami ikuti saja jalan itu dan dapat pertigaan lagi.. sempat duduk dan sedikit berdebat karena seorang temen ngajak untuk bangun tenda di jalur saja, toh kalo ada orang lewat pasti tau atau setidaknya menunggu esok pagi.. tapi nbsusanto dan temen satunya masih menolak ajakan itu karena air juga sudah tipis.. akhirnya kami pun mengamati lagi pertigaan terakhir dan menemukan tanda jalur.. kami pun melangkah turun..

lalu yakin kalo jalan yang dilalui sudah benar? tidak! ada bagian jalan yang lagi-lagi terasa asing.. tanda-tanda sampah pun minim.. tapi kami tetap melangkah turun.. prinsipnya kalo setelah ini ketemu dengan ladang warga maka jalannya bener.. memang saat itu bagian lapang yang cukup luas, tapi di malam hari tak terlihat jelas sehingga meski dugaan jalur sudah benar tapi belum bisa dipercaya 100%..

ya sebenernya kami sudah sampai di daerah foto di atas.. lanjut jalan pokoknya hingga nampak papan reflektif bertuliskan arah basecamp kompak.. alhamdulillah jalannya bener.. melangkah turun meski ada persimpangan yang sempat membuat ragu ambil mana, kami putuskan tetap mengikuti jalan yang besar selama tidak ada petunjuk belok.. sempat istirahat dan temen tukeran pakai tas.. hingga akhirnya terlihat lampu di kejauhan.. ya itu aspal menuju basecamp.. turun dari jalan tanah dan kami memilih tetap melalui aspal meskipun sebenernya ada jalan pintas pendakian.. alasannya lebih baik jalan yang rata datar saja karena sudah capek.. setidaknya mukanya sih sudah cerah.. 😆

sekitar jam 9 kami pun sudah sampai di basecamp kompak.. lepas tas dan melapor untuk administrasi.. alhamdulillah.. lanjut pinjam kendaraan dan cari makan malam sekalian mendiskusikan bagaimana balik ke jakartanya.. kami putuskan untuk menginap dan jalan esok pagi karena sudah malam tak ada angkutan umum lagi menuju kota tegal.. balik ke basecamp dan saat itu bertukar cerita dengan penjaga basecamp bahwa temen denger gamelan, eh beliau juga sempat melihat sesuatu saat mendaki meski sudah sering banget muncak.. busyet.. hingga akhirnya beliau menyarankan kami untuk istirahat dulu saja.. baiklah gelar sleeping bag dan tidur.. 😆

gunung slamet.. gunung tertinggi nbsusanto hingga saat artikel ini dibuat.. maklum pengalaman sebelumnya adalah gunung ijen yang tak sampai 3000 mdpl dan tracking cukup 2 jam saja.. beda banget.. di gunung slamet via jalur pendakian guci ini banyak pepohonan di kiri kanan dan tak ada jalur sabana.. pun tentang gunung slamet yang merupakan satu dari beberapa gunung yang wingit di tanah jawa ini dapat dirasakan oleh seorang temen dengan adanya suara gamelan yang hanya dia sendiri yang mendengarnya.. setelah turun pun nbsusanto langsung bilang kalo setidaknya dalam sebulan setelah pendakian ini tidak akan mau diajak naik gunung oleh temen itu.. ya bener saja karena beberapa hari berikutnya sudah masuk bulan ramadhan.. 😆 gunung slamet? yang pasti seru dan berkesan! akhirnya berani juga untuk mewujudkan salah satu angan jaman kuliah dulu.. 😀

sekian dan terima kasih.. 🙂

wassalamu’alaikum wr. wb..

Advertisements

3 Komentar

monggo tanggapannya.....