catatan pemilu 2019, betapa krusialnya data pemilih

assalamu’alaikum wr. wb..

pemilu 2019 telah dilaksanakan.. pergelaran pesta demokrasi di indonesia ini menyisakan tugas KPU dari tingkat bawah sampai atas untuk merekapitulasi jumlah suara pada setiap kategori.. alhamdulillah sepanjang pemantauan nbsusanto berlangsung damai, meskipun tentu saja ada beberapa keributan kecil yang terjadi.. dominannya adalah faktor data pemilih, apalagi dengan adanya DPT, DPTb serta DPK..

antusiasme masyarakat dalam menyongsong pemilu 2019 ini cukup tinggi meskipun ada yang terkendala, utamanya perantau.. utamanya adalah hari pencoblosan yang terjadwal pada hari rabu tanggal 17 april 2019.. serba tanggung.. apalagi setelah pada ngeh kalau 19 april 2019 juga tanggal merah.. otomatis 18 april kejepit.. beberapa orang bisa ambil cuti sehingga sekalian long weekend.. kalau yang tidak maka pulang sehari itu sangat capek apalagi kalau KTP nya jauh.. kemudian muncullah solusi dari KPU untuk memilih di TPS terdekat dengan lokasi kerja dengan mengurus berkas pindah mencoblos sampai dengan H-30 di kantor kpu tujuan.. meluncurlah nbsusanto ke kantor kpu jakarta pusat..

sampai di lokasi ternyata sudah banyak yang antri.. untungnya sih isi form awal terlebih dahulu dengan menyiapkan fotokopi ktp dan kk kemudian setelah verifikasi data awal bisa ambil nomor antrian.. total ada 4 jam hingga dipanggil, lhawong sudah ditinggal sholat dan makan saja masih tetep nunggu.. setelah dipanggil cek data lagi kemudian dicetakkan form A5.. sudah masuk daftar pemilik tambahan maka nbsusanto merasa aman bisa nyoblos di deket kontrakan.. saat itu pula ada pengumuman bahwa hari terakhir pengurusan nanti tidak sampai sore karena akan ada rapat finalisasi pemilih yang masuk DPTb.. dengan jumlah yang banyak, bayangan nbsusanto nanti DPTb sudah masuk di data TPS..

beberapa hari menjelang pemilu, nbsusanto yang mencari-cari jam pencoblosan untuk form A5 tetep aja belum nemu.. googling cek web KPU dan portal berita nggak ada.. sampai akhirnya ada temen yang share H-1 bahwa bisa dari jam 7 tidak harus menunggu jam 12.. esok paginya nbsusanto datang jam 10 ke TPS bawa A5 dan eKTP.. menjelang pintu masuk TPS membaca tempelan tentang coblosan dan memang untuk DPT dengan C6 dan DPTb dengan A5 dipersilakan datang jam 07-13, untuk DPK nanti jam 12.. nbsusanto pun baca daftar pemilih yang ditempel.. hanya saja kok cuma ada yang DPT saja?

melangkah masuk dan menunjukkan A5 pada petugas KPPS namun katanya belum boleh, tunggu jam 12 dulu.. nbsusanto pun chat dengan PPS setempat dan beliau menulis diperbolehkan.. nbsusanto tunjukkan aturan dan chat namun diminta tanya ke Panwas TPS.. oleh Panwas TPS awalnya juga dibilang belum boleh namun setelah nbsusanto tunjukkan foto, beliau tanyakan ke tim Panwas lain dan memang diijinkan.. nbsusanto masuk lagi ke TPS, namun KPPS terlihat masih keberatan dan minta pendapat saksi.. saksi menolak nbsusanto nyoblos sebelum jam 12!

mbuh saksi dari paslon atau partai mana.. sebenernya kalo memang beneran lagi kumat iseng paling juga nbsusanto ladeni.. tapi berhubung pendatang dan sudah cukup menarik perhatian nbsusanto urungkan saja.. sekadar cukup tau.. tapi apa berhenti terima begitu saja?

tentu tidak.. hampir semua medsos nbsusanto pos pengalaman tersebut.. di fb sempat nbsusanto share ke grup dan cukup rame hingga lebih dari 200 komentar yang pro maupun kontra.. yang pro beralasan pada aturan, yang kontra kekeuh jam 12 juga tak sedikit.. mungkin untuk menghindari perselisihan lebih lanjut akhirnya admin menghentikannya.. nbsusanto hargai pendapat semuanya, mungkin tidak semua tau.. justru dari situ nbsusanto baru tahu bahwa surat suara hanya sejumlah DPT + 2%.. bukan DPTb + 2% lho.. artinya dengan regulasi saat ini maksimal 300 orang per TPS maka hanya ada lebihan 6 surat suara.. memang ada benernya yang kontra alasan untuk mengutamakan warga yang masuk DPT.. namun kalo alasannya bukan itu mesti nbsusanto kejar dengan aturannya..

suatu hal yang aneh.. bagaimana mungkin bisa terjadi kalau surat suara hanya DPT + 2% bukan DPTb + 2%? bukankah sudah ada pendataan ribuan orang dan sudah ada rapat penetapannya? memangnya ribuan orang tersebut dibagi dalam berapa ribu TPS? belum lagi nanti kalau ada DPK.. lha wong nbsusanto whatsapp an dengan beberapa temen dan nemu beberapa kasus gagal nyoblos di pemilu 2019 karena :

  • tidak mengurus form A5 karena entah memang tidak tahu, kesibukan, kurang peduli di awal atau ada tugas mendadak.. KPU memang telah mengumumkan lewat media massa namun mungkin kurang menjangkau mereka dan baru gencar menjelang akhir periode..
  • sudah mencoba mengurus A5 namun di beberapa wilayah butuh adanya surat keterangan kerja pada saat ini bertandatangankan atasan dan tidak bisa misalkan dengan SK penugasan yang terbit beberapa tahun lalu.. posisi sudah mepet sehingga belum sempat mengurus surat keterangan dari atasan sudah tutup..
  • tidak mengetahui bahwa dirinya tidak masuk dalam DPT sebelum hari H padahal KPU sudah meminta untuk mengecek di websitenya.. jikalau tau dari awal tentu bisa mengurus di KPU sehingga bisa terdaftar sebagai DPT.. sebenarnya bisa dengan mendaftar jadi DPK dengan konsekuensi kalau ada surat suara sisa..
  • sudah mengecek di daftar pemilih dan namanya tidak terdaftar di DPT.. langsung mengurus ke KPU namun dijawab bahwa nanti menggunakan hak sebagai DPK saja toh eKTP sesuai domisili.. namun ternyata di hari-H surat suara di TPS terdekat sudah habis.. saat komplain ke KPU daerah ternyata tidak hanya 1-2 orang saja yang mengalami hal tersebut..

namun ada juga temen yang cerita bahwa dia dan temennya bisa nyoblos hanya dengan eKTP saja tanpa A5 padahal alamat eKTP berbeda dengan lokasi TPS.. ada beberapa wilayah yang bisa di saat kebanyakan tidak bisa..

kita sebagai masyarakat memang seharusnya memastikan hak kita dengan proaktif mencari.. namun pihak regulator sebaiknya introspeksi pula kenapa hal-hal di atas bisa terjadi, termasuk kasus nbsusanto.. jumlah DPT asal seharusnya sama dengan database kependudukan karena dasarnya memang dari NIK.. kecuali warga belum merekam data kependudukan, seharusnya cukup dari situ sudah bisa.. kemudian untuk DPTb karena memang bisa diurus hingga H-30, seharusnya disiapkan surat suara untuk TPS tujuan, dengan mengurangi surat suara untuk TPS asal karena memang sudah direkap datanya bukan? soalnya kalau kasusnya seperti yang nbsusanto alami malah berpotensi ribut antara KPPS dengan calon pemilih..

bukan mau mendiskreditkan siapa-siapa.. petugas pemilu juga capek.. toh nbsusanto akhirnya bisa nyoblos setelah balik lagi ke TPS jam 12 dengan form A5.. namun kalo memang bisa diperbaiki demi menyongsong masa depan, kenapa tidak? 😁

wassaamu’alaikum wr. wb..

Advertisements

Be the first to comment

monggo tanggapannya.....