sejarah kereta palbapang – sewugalur dari ingatan simbah (part 2 – selesai)

assalamu’alaikum wr. wb..

jalur mati kereta api di Indonesia.. suatu topik yang bagi nbsusanto masih sangat menarik.. semakin dicari, menemukan serpihan ceritanya, semakin banyak yang perlu digali.. ceritanya hampir sama.. kalah dari moda transportasi darat yang lainnya.. nah kok ya ndilalah nbsusanto masih punya tulisan yang belum tuntas tentang petikan sejarah kereta api palbapang – sewugalur yang terbit setahun lalu.. sebenernya bahan sudah lengkap dari lama, namun berbagai hal membuatnya tertunda.. berikut lanjutannya..

👴🏼 : jaman bahuela..

kalimat pertama yang keluar dari cerita mbah pawiro, warga srandakan, tetangga nbsusanto yang masih cukup segar ingatannya sehingga nbsusanto jadikan narasumber..  cerita beliau mungkin tidak terlalu detail mengingat sudah lebih dari 50 tahun sejak jalur kereta api palbapang – sewugalur dinonaktifkan.. saat itu beliau merupakan warga masyarakat pada umumnya yang tidak bisa setiap saat menikmati perjalanan menggunakan kereta api.. namun nbsusanto coba tuliskan berdasarkan apa yang mengesankan hingga masih terngiang terkait jalur kereta tersebut..

nbsusanto sampaikan bahwa selama ini nbsusanto menelusuri internet bahwa tidak banyak referensi tentang kereta api palbapang – srandakan – sewugalur.. cuma sebatas tahun pembangunan kemudian tahun 42-43an dicabut jepang.. jauh lebih sedikit daripada cerita tentang jalur kereta api yogyakarta – bantul – palbapang.. kalau bukan dari narasumber yang menjadi saksi hidup, entah harus darimana lagi nbsusanto sebagai masyarakat umum dapat menggalinya..

👴🏼 : jalur kereta termasuk sik ning bantul kui hak e londo.. pabrik gula ganjuran.. gondang winangun.. rel pleret nggih onten..

frekuensi perjalanan kereta api pada jaman dulu memang tidaklah padat, namun pasti ada termasuk di siang hari.. mengangkut penumpang dan cukup ramai.. beliau juga menceritakan bahwa pada momen tertentu kereta didekorasi sedemikian rupa sehingga menarik.. tentu saja pemuda pada jaman tersebut menaikinya karena dikira gratis pada momen yang cukup spesial.. pemuda semasa simbah tersebut menumpang kereta saat berhenti di Stasiun Mangiran (halte ?) yang terletak di timur laut Pasar Mangiran (masa kini).. ternyata setelah kereta mulai berangkat diteriaki bahwa perjalanan kereta api tersebut berbayar.. 😅

untuk tarif naik kereta, mbah pawiro sudah tidak ingat lagi.. hanya saja pada saat itu uang yang dibayarkan masih berupa sen.. untuk kondisi keretanya masih menggunakan lokomotif tenaga uap dan jangan dibayangkan sudah menggunakan kaca dan AC seperti saat ini.. kereta penumpang pun menggunakan jendela sehingga ada kemungkinan penumpang merasakan jelaga sisa-sisa pembakaran..

selanjutnya simbah beserta bapak-bapak lain yang berada di seputaran bercerita tentang jaman dahulu, namun topiknya pun berganti-ganti.. memang tidak banyak yang bisa nbsusanto gali tentang kereta api palbapang – srandakan – sewugalur.. bagaimana lagi sudah puluhan tahun berlalu dan berdasarkan ingatan.. semoga ke depan nbsusanto bisa mendapatkan berbagai referensi tambahan tentang perkeretaapian maupun hal-hal lain yang menarik dan bermakna..

*gambar didapatkan dari KITLV Leiden

semoga bermanfaat.. 🙂

wassalamu’alaikum wr. wb..

Be the first to comment

monggo tanggapannya.....