jalur kereta Yogyakarta – Bantul – Palbapang yang terkubur perkembangan jaman

assalamu’alaikum wr. wb..

bagi nbsusanto, mendiskusikan kereta api selalu menarik.. memang dari masa kecil sudah hobi dengan kereta.. apalagi bertempat tinggal di srandakan yang menurut berbagai referensi yang nbsusanto baca dulunya dilewati oleh jalur kereta api Yogyakarta – Sewugalur yang dioperasikan oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg (NIS).. kini semua tinggal kenangan.. memang untuk jalur Yogyakarta – Palbapang masih ada sisa-sisa rel 1067 mm (sebelumnya sempat 1435 mm hingga diambil alih Jepang) di pinggir jalan.. namun untuk Palbapang – Sewugalur dengan lebar spoor 1435 mm sudah sama sekali tidak bersisa.. isu tentang reaktivasi maupun MRT sudah pernah terdengar, entah sampai dimana tahapannya.. kini renovasi jalan Bantul seakan mengajak nostalgia..

beberapa tahun yang lalu terdapat proyek renovasi Jalan Bantul dari simpang Klodran (Masjid Agung Manunggal Bantul) sampai dengan simpang Gose (selatan Polres Bantul).. perbaikan jalan ini memindahkan separator jalan yang berisi banyak pepohonan, yang tadinya memisahkan jalur kendaraan bermotor dengan jalur kendaraan bermotor, menjadi di tengah sebagai pemisah jalur ke utara dan ke selatan.. kebetulan saat itu nbsusanto melihat saat separator timur digali dan ternyata ada rel kereta api nya.. kok ya ndilalah saat itu nggak bawa hp karena cuma mau ke ATM.. nyesel banget apalagi setelah itu harus kembali ke ibukota.. ya sudahlah..

eh ndilalah di 2019 ini giliran simpang Klodran sampai Gapura Bantul yang direnovasi.. kalau diurutkan relnya harusnya di separator sisi barat.. nbsusanto yang tiap hari lewat selalu mengamati apakah benar di barat.. suatu sore akhirnya terbuka.. benar saja di sisi barat.. langsung menepi dan mengabadikannya sebelum kembali dikubur.. ya, dua batang baja itu masih membujur dengan kondisi berkarat.. bagaimana lagi sudah terpendam sekian lama.. lhawong berhenti beroperasi sudah di dekade 70an karena kalah bersaing dengan moda jalan raya.. ya permasalahan klasik sehingga banyak jalur kereta api yang mati di indonesia.. menjamurnya kendaraan pribadi apalagi sekarang begitu mudahnya membawa pulang kendaraan baru.. lama kelamaan bersamaan dengan berkembangnya wilayah, rel kereta api pun terkubur tanah.. terkubur perkembangan jaman.. namun setidaknya bersyukur masih ada jejak rel dan beberapa bangunan stasiun yang tersisa..

karena sudah sempat mengabadikan rel kereta yang sempat nongol sebelum dikubur kembali, nbsusanto putuskan saja untuk menyusuri dan mencoba mendokumentasikan apa yang tersisa dari jalur kereta api Yogyakarta – Bantul – Palbapang dari bekas Stasiun Palbapang.. berikut apa yang nbsusanto temukan dan sempat abadikan..

Stasiun Palbapang kini telah beralih fungsi menjadi Terminal Palbapang meski bangunan eks stasiunnya masih ada.. sebuah terminal kecil di Bantul selatan yang melayani beberapa bus AKAP, di antaranya Sumber Alam dan Murni Jaya.. kalau bus AKDP tidak sampai ngetem disini.. memang okupansi bus AKDP pun sudah jauh menurun dibandingkan beberapa dekade lalu.. lagi-lagi memang karena semakin banyak kendaraan bermotor.. beberapa tahun lalu nbsusanto sering dolan kesini dengan dulur KOBOYs sekadar ngangkring.. sekarang bakulnya entah kemana..

coba bandingkan dengan foto di masa kejayaan Stasiun Palbapang yang nbsusanto dapatkan dari KITLV Univ Leiden Belanda.. syahdu sekali bukan? ada bangunan stasiun dengan banyak emplasemen serta melayani kereta penumpang / trem serta angkutan gula terutama dari eks Pabrik Gula Gesikan dan eks Pabrik Gula Sewugalur.. ohiya kalau tidak salah nbsusanto juga pernah membaca dulunya di barat Stasiun Palbapang, tepatnya sekitar Bajang, ada percabangan menuju Pabrik Gula Gesikan..

kemudian berjalan ke timur dan berbelok ke utara arah jalan Bantul.. meskipun terkubur perkembangan jalan, masih ada beberapa titik yang nongol.. salah satunya di tikungan Palbapang itu sendiri, yang mana rel menembus sebuah bangunan.. entah bagaimana ceritanya bisa beralih fungsi begitu.. kalau di beberapa lokasi lain di pinggir jalan Bantul sudah berubah tertimbun oleh cor-coran juga meskipun relnya tetap masih terlihat nongol..

menyusuri jalan ke utara, rel kereta telah terkubur oleh aspal sejak sekitar perempatan Gose.. kemudian di utara lampu merah dekat Parasamya, atau tepatnya beberapa bangunan di selatan PKU Muhammadiyah Bantul, ada sebuah bangunan tua yang cukup menarik.. ya itulah bekas Stasiun Bantul.. kini bangunan ini di sisi luarnya digunakan oleh para pedagang untuk lapak berjualan.. entah dulunya ada berapa emplasemen di Stasiun Bantul, kini di depannya digunakan untuk parkiran mobil..

kembali berkendara di jalan Bantul dan melintas di kawasan jalan yang sedang direnovasi.. sambil berpikir, itu bangunan Gapura Bantul berdiri tepat segaris rel.. dulu dibangun di atas rel atau di sela-sela nya atau rel nya diambil atau bagaimana ya? nbsusanto coba mencari referensi tahun berdirinya Gapura Bantul namun belum ketemu.. mungkin ada yang bisa menambahkan..

lanjut gas ke utara, katanya di Cepit dulu ada halte namun nbsusanto sama sekali tidak menemukan jejak yang tertinggal sehingga terus saja ke sekitar Sungai Winongo.. disini rel sempat berpisah dengan jalan raya Bantul, yaitu jalan aspal belok ke kanan rel masih lurus.. nbsusanto masuk ke kawasan perkampungan untuk mengikutinya dan akhirnya ketemu dengan Stasiun Winongo.. terdapat plang Bangunan Cagar Budaya di sisi depan bangunan ini.. masih ada pula tiang telekomunikasi yang memang khas untuk kereta api.. kini bangunan Stasiun Winongo telah berubah fungsi menjadi bangunan pertemuan warga di sekitarnya..

setelah berbelok, rel kereta api jalur Yogyakarta – Palbapang ini bertemu dengan Kali Winongo.. masih ada jembatan kereta api dengan struktur besi trust di bawah yang melintang sungai ini.. namun bagian permukaannya sudah diberi cor-coran sehingga dapat dilalui oleh sepeda motor, sepeda kayuh serta orang berjalan kaki.. tidak ada pagar di kanan kirinya sehingga kalau melintas ya jangan sampai meleng.. kemudian jalannya tembus ke gapura dusun Kweni..

kemudian di utara bertemu dengan Stasiun Dongkelan yang terletak di depan Pasar Satwa dan Tanaman Yogyakarta (PASTY).. bangunan asli stasiun ini menurut referensi yang pernah nbsusanto baca sudah ludes terbakar.. kini bangunan yang masih berdiri merupakan replika dari bangunan Stasiun Dongkelan.. pernah digunakan untuk berjualan maupun sekadar untuk berteduh.. tepat di tepi jalan namun mungkin tidak semenarik perhatian stasiun-stasiun lain karena memang bangunannya simpel walau unik..

melanjutkan perjalanan hingga di barat jalan berdiri Parkir Ngabean.. sebuah kawasan parkir berbagai kendaraan, utamanya bus pariwisata, yang tiap liburan selalu ramai banget.. dulunya di kawasan ini merupakan Stasiun Ngabean.. hingga kini bangunan Stasiun Ngabean yang terletak di +100 m ini masih berdiri dengan rel kereta di depannya.. namun jika dari jalan agak tersamarkan walau mepet jalan karena memang menghadapnya ke barat, apalagi ditambah adanya bangunan baru tepat di utara Stasiun Ngabean.. memfoto pun agak susah namun setidaknya bangunan masih ada dan dapat dikunjungi..

rel kereta api Yogyakarta – Palbapang bergabung dengan jalur kereta aktif di Stasiun Tugu Yogyakarta.. menjadi menarik bagi nbsusanto karena penasaran bagaimana bergabungnya dan dimana jalur percabangannya, mengingat kalau dilihat jalan raya bahwa rel kereta aktif saat ini dari Stasiun Tugu melintas Jalan Tentara Pelajar secara tidak sebidang.. namun ndilalah sore itu mendapat pencerahan saat nbsusanto iseng belok ke arah Stasiun Tugu dan menemukan jalan kampung kecil di sisi selatan yang sudutnya tidak tegak lurus terhadap jalan raya.. biasanya model-model begitu jika tadinya merupakan jalur kereta api.. motor dibelokkan kesitu dan ketemu seperti foto di atas.. rel kereta masih ada dan tepat pada jalur kereta tersebut sudah dipaving kemudian di beberapa titik diberi atap.. syahdu juga kalau di bagian yang ada kursinya sambil membayangkan duduk di atas kereta yang melaju di rel ini..

kini perkeretaapian di Bantul yang kini tersisa Stasiun Rewulu saja yang aktif.. mungkin masih banyak spot-spot menarik dan masih ada mengenai jalur Palbapang – Yogyakarta yang belum sempat nbsusanto eksplorasi.. apalagi kalau mengamati potongan peta yang ada jalur kereta api di sekitar Palbapang – Yogyakarta, yang kalau tidak salah merupakan jalur kereta tebu dari dan menuju berbagai pabrik gula.. yang masih wujud ada di sekitar kasongan, madukismo dan sekitar manding ke timur.. kalau sepur tebu mungkin masih aktif beberapa tahun lalu.. tapi kini pun tinggal tersisa relnya saja.. itupun terkubur tanah, beton maupun aspal bersama perkembangan jaman..

menelusuri jalur kereta api Yogyakarta – Palbapang yang terkubur perkembangan jaman ini jadi pengen sedikit mengubah lagu Naik Kereta Api menjadi seperti ini :

naik kereta api tuut tuut tuut
siapa hendak turut
ke Bantul Yogyakarta
dulunya bisa naik kereta
ayo keretaku lekas bangun
tidurmu tlah terlalu lama

sekian dan terima kasih.. 🙂

wassalamu’alaikum wr. wb..

Advertisements

Be the first to comment

monggo tanggapannya.....